Opini: Demokrasi milik siapa?
Demokrasi sepatutnya memberikan nilai plus kepada bangsanya, negara akan menjamin sebuah kebebasan hak, partisipasi politik dan kritik sosial. Kalau demokrasi di hdapkan dengan sebuah orientasi kekuasaan, maka di temukan marjinalisasi, pengekangan, politisasi, guna menyuplai hasil keringat rakyat lewat sebuah sistem serakah, dimana demokrasi menempatkan posisiny sebagai satu kebutuhan sendi kehidupan berbagsa, sekalipun penyelenggaran negara akan berkiblat pada tatanan kehidupan oligarki dan kapitalisme di penghujung dunia barat dan timur.
Sejatinya mengingatkan sebuah pertanyaan goblok, tak memiliki esensi, eksistensi dan jiwa raga demokrasi untuk milik siapa, bagaimana dan demokrasi itu harus di rebut.
Perebutan kekuasaan oligarki di tangan kaum lemah, proletariat lah akan di jadikan kambing hitam negara, komunisme akan bangkit namun saja di preteli lewat agen produk sejarah dunia, sosialisme akan bangkit, namun selalu saja di kekang, di tutupi sebuah ideologi borjuasi, atau perang ideologi di lihat, di maknai sebagai alat melahirkan kesadaran kelas sosial di tengah maraknya sejarah-sejarah dunia, seperti Uni soviet di bawah kepemimpinan, perancis ada Nazi dan kuba pemimpin sosialis.
Inilah gambaran, dimana kelas-kelas sosial akan merebut posisinya, demokrasi di tempatkan ke pada sebuah alienasi jati diri dan konsep telah tercebur ke dalam bak kolam yang di genangi sampah membusuk.
Demokrasi sebagai relasi.
Demokrasi nampaknya adalah cabang dari relasi intimnya oligarki. Selama oligarki bergerak, yang ada dan di butuhkan adalah relasi dan demokrasi di berbagai kebijakan pemerintah terhadap produk hukum positit atau pelakana hukum (presiden bersama lembaga legislasi).
Komentar
Posting Komentar